Hometown Holiday – Part 3 – Susan Spa and Semarang Culinaries

*Krriiiinngggggggggggg*

Alarm berbunyi dan kulihat waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Hari ini Sabtu, tanggal 18 Juli 2015. Ini merupakan hari ketiga liburanku di Semarang ( cerita hari pertama dan kedua bisa dilihat disini dan disini).

Saya pun mulai beranjak bangun untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke Susan Spa. Susan Spa sengaja saya jadikan agenda pertama hari ini karena kalau terlalu siang takutnya matahari disana sudah terik dan susah untuk foto-foto. XD

Perjalanan dari Semarang – Ungaran – Bandungan lancar dan tidak macet, agak tersendat dikit saat masuk gerbang tol Semarang – Ungaran. Tiba di Susan Spa pukul 09.00. Ketika hendak masuk, ternyata sudah ada peraturan baru yang mengharuskan setiap pengunjung untuk membeli tiket seharga IDR 25.000 per orang tapi tiket tersebut dapat digunakan juga sebagai voucher di Pandan Resto.

Seperti yang saya takutkan, matahari sudah terik dan chapel La Kana di reservasi untuk acara pernikahan. Untung sempat foto-foto sedikit sebelum diusir oleh petugas yang bertugas di area chapel.

IMG_4526

La Kana Chapel Susan Spa

La Kana Chapel Susan Spa ^^

La Kana Chapel Susan Spa ^^

Karena teriknya matahari, saya melanjutkan eksplor Susan Spa bagian indoor seperti kolam renang dan gazebo.

IMG_4713

IMG_4586

IMG_4712

Puas menyusuri Susan Spa, perut pun mulai keroncongan dan Pandan Resto merupakan tujuan selanjutnya ( sekalian menggunakan voucher tiket masuk tadi ). Sesampainya di Pandan Resto, saya memesan Fetuccine Carbonara sekaligus menumpang charge handphone. Nah, fetuccine Carbonara ini membuka wisata kuliner pada hari ini.

IMG_4726

Fetuccine Carbonara

Harga seporsi Fetuccine Carbonara nya IDR 38.000. Lumayan mahal sih, tapi sebanding dengan rasanya, sangat creamy dan toh juga bayarnya menggunakan voucher. Suasana Pandan Resto sangat ramai dan dipenuhi oleh pengunjung, pelayan disini juga ramah-ramah dan sigap dalam melayani pengunjung.

Selesai menyantap Fetuccine, perut masih lapar. Namun ini disengaja agar bisa melanjutkan wisata kuliner selanjutnya :D. Tujuan selanjutnya dari Susan Spa yaitu Nissin Cafe. Perjalanan ditempuh kurang lebih 30 menit dari Bandungan ke Ungaran.

Sampai di Nissin Cafe sekitar pukul 12.00 WIB. Restoran penuh dan waiting list. Jadi kita melihat-lihat untuk belanja snack untuk dibawa pulang dan oleh-oleh dahulu sembari menunggu antrian. Sekitar 15 menit menunggu, kita akhirnya mendapat tempat juga dan kita memutuskan memesan 3 menu yaitu Nissin Mixed Grill,

wpid-20150718_133948-1

Nissin Mixed Grill, Chicken Corn Soup and Strawberry Yogurt Shake

Rasa makanannya oke sih, cuman daging grillnya disajikan kurang hangat dan sedikit plain. Sup ayam jagungnya saya suka, strawberry yogurt shake nya juga ok. Damage cost untuk total ketiga menu ini yaitu IDR 76.000.

Kenyang ? Masih belum ! Kuliner selanjutnya dari Nissin Cafe yaitu Sate Sapi Pak Kempleng 2 karena Sate Sapi Pak Kempleng 1 masih tutup karena libur lebaran. Pasti sudah banyak yang tahu mengenai kuliner satu ini di Ungaran, tapi disini pengalaman kurang mengenakkan terjadi. Kondisi rumah makan lebih padat dan ruwet daripada Nissin Cafe. Pengunjung ramai dan semuanya hampir duduk dengan meja tanpa terhidang makanan pertanda bahwa pesanan saya masih akan lama sekali tersaji. Kami pun duduk dan tidak lama kemudian segerombolan keluarga datang dan duduk disebelah kami. Setelah menunggu pesanan kurang lebih 1,5 jam, emosi mulai diuji. Pesanan gerombolan sebelah telah datang sebelum kami yang notabene telah datang lebih cepat. Mungkin Pak Kempleng 2 ini tidak menerapkan sistem First In First Out dan entah menggunakan sistem apa. Saya pun mulai complain beberapa kali namun tetap diacuhkan. Akhirnya kita pun memilih meninggalkan rumah makan ini dengan kekecewaan.

Gagal menikmati Sate Sapi Pak Kempleng, kita pun melanjutkan perjalanan ke arah kota Semarang. Pilihan kuliner selanjutnya jatuh ke Bakso Geger di dekat jalan Pamularsih. Kita tiba di Bakso Geger sekitar pukul 16.00 WIB, kondisi rumah makan juga rame meskipun tidak sampai waiting list. Pelayanan disini jauh lebih bagus daripada Sate Pak Kempleng tadi. Kita memesan 1 mangkok Bakso dan 1 gelas jeruk hangat, damage cost untuk kuliner kali ini adalah IDR 23.000. Sorry kelupaan untuk foto bakso nya.

Seusai dari Bakso Geger kita pulang menuju rumah, perjalanan ditempuh hanya 5 menit karena memang sudah dekat. Sesampainya dirumah kita mandi dan beristirahat.

And like this July 18th passed ? Not yet. =)

Pada pukul 18.00 kita melanjutkan wisata kuliner ke resto japanesse Sudoku di jalan Atmodirono. Disini kita memesan Salmon Sashimi, Salmon Baked Roll, Salmon Cheese Aburi, Aloe Vera Ice, Ice Mocha Caramel.

 

IMG_4640

Salmon Sashimi, Crunchy Kani Roll, Salmon Baked Roll, Salmon Cheese Aburi, Aloe Vera Ice, Ice Mocha Caramel

Rasa dan harga sushi Sudoku ini mirip dengan Hachi-Hachi di Jakarta. Kita menghabiskan waktu kurang lebih hingga pukul 20.00 lalu menuju ke Mary Anne untuk dessert dan menutup malam. Setelah hampir tersasar dalam perjalanan, kita tiba di Mary Anne ( Studio Inn ) sekitar pukul 20.30 dan sialnya resto sedang tutup dan mulai beroperasi besok T_T.

Akhirnya kita memutuskan untuk pulang ke rumah and like this July 18th passed..

Lanjut ke hari keempat.

IMG_4632

Dinner at Sudoku

Advertisements

Hometown Holiday – Part 2 – Yogyakarta the City of Art and Memories

*Krriiiinngggggggggggg*

Alarm berbunyi dan kulihat waktu menunjukkan pukul 06.00. Hari itu Jumat tanggal 17 Juli 2015. Ini merupakan hari kedua liburanku di Semarang ( cerita hari pertama bisa dilihat disini ).

Pulasnya tidur yang disebabkan oleh barbeque dan exciting ngobrol ngalor-ngidul dengan teman semalam membuat kesusahan membuka mata dan beranjak bangun dari tempat tidur pagi ini. Awalnya kita sekeluarga berencana di hari kedua ini akan mengadakan liburan ke Yogyakarta. Mengingat Yogya yang sudah mulai padat dan macet ( apalagi pada musim liburan seperti ini ) maka kita merencanakan untuk berangkat pagi-pagi buta sekitar pukul 06.00 WIB, namun apa daya melek saja sudah jam segitu. Langsung bangun, mandi, siap-siap dan langsunglah kita berangkat menuju Yogyakarta. Yeaahh~

Rencana awal kita yaitu memulai perjalanan dengan sarapan Soto Ayam Pak Ra’an di jalan Abdurahman Saleh namun tutup, wajar saja sih karena ini merupakan hari pertama Idul Fitri. Warung soto ini sudah menjadi favorit keluarga kami dari dulu selain karena lokasi yang dekat dengan rumah ( papa dulu sering mampir makan disini seusai menjemput saya dan adik seusai pulang sekolah SD ), kami sekeluarga cocok dengan soto khas Semarang ini. Gorengan tempe, perkedel, sate ayam, sate kerang, sate telor puyuh sering membuat kalap. Tapi sayang pada kesempatan kali ini kurang berjodoh :(. Perjalanan pun kita lanjutkan kembali.

Papa mengatakan bahwa kita sarapan seketemunya saja di perjalanan menuju ke Yogyakarta, jadinya kita “siaga” sepanjang menyusuri kota Ungaran hingga Magelang. Rumah makan hampir semuanya tidak beroperasi dan yang beroperasi pun kurang menarik minat kami. Sesampainya di Magelang, kita menghampiri lokasi tempat makan favorit kami yaitu Rumah Makan Mie Jakarta namun tutup juga entah libur lebaran atau belum buka. Oh ya, overall semua menu makanan disini enak-enak, namun favorit kami yaitu nasi tim dan menu bakmie nya.

Tujuan sarapan kami saat itu yaitu jeJamuran di dekat Sleman sebelum masuk kota Yogya, kalau ini kita belum pernah mencoba sekalipun namun lagi-lagi tutup. Akhirnya kita memutuskan langsung menuju ke Malioboro Yogya dan mencari makanan disana. Bagi yang penasaran dengan jeJamuran, berlokasi di jalan Magelang Km. 11 RT. 01 RW. 20, Desa Niron, Pandowoharjo Tridadi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta atau bisa mengunjungi website resminya di http://www.jejamuran.com. Resto ini menyediakan khusus semua makanan variasi dari jamur.

Kita tiba di Yogya sekitar pukul 10.00 WIB, dan mobil kita parkir di depan Rumah Miroeta. Biasanya kita parkir di dalam Mall Malioboro tapi pada hari ini mall tersebut beroperasi pukul 13.30 WIB. Kita menyusuri jalan Malioboro dan memutuskan untuk menyantap bakso dan gudeg disana. Baksonya enak dan si Penjual Bakso multitalent karena dia selain menjual bakso juga menjual nasi gudeg, ayam goreng, es durian, dan handling minuman seorang diri dalam melayani pelanggannya.

Seusai makan kita jalan-jalan di Malioboro dan Pasar Bringharjo untuk melihat-lihat dan belanja pernak-pernik disana. Pasar Bringharjo sangat sepi, hanya segelintir toko dilantai dasar yang beroperasi. Tidak hanya Bringharjo, jalanan Malioboro dan kota Yogya pada umumnya sangat sepi berbeda saat saya berlibur bersama teman beberapa waktu silam.

Yogyakarta selalu menjadi kota destinasi favorit saya ketika dulu saya masih tinggal di Semarang hingga kini. Kami sekeluarga juga sering mengunjungi kota ini pada hari Minggu. Yang saya suka dari kota ini adalah suasananya yang ramah, tentram dan berseni ( Kla Project sangat pas menggambarkan kota ini lewat lantunan lagu Yogyakarta nya ), wisata kulinernya juga beraneka ragam, penduduk hingga tukang parkir dan pengamennya ramah-ramah beda jauh dengan Jakarta.

Setelah capai jalan-jalan di Malioboro dan Bringharjo, kita beristirahat sekaligus “snack-time” di McDonald’s sekaligus menunggu Mall buka. Waktu menunjukkan pukul 12.00 saat itu. Kita menunggu sambil menikmati French Fries dan saya juga memesan Cheese Burger. Tidak lama kemudian Mall buka dan kita mampir untuk jalan-jalan disana hingga pukul 14.30 kemudian dilanjutkan ke Yogya City Mall untuk jalan-jalan dan makan malam di Qua-Li sebelum pulang menuju Semarang.

And like this July 17th passed..

Lanjut ke hari ketiga.

Hometown Holiday – Part 1 – Semarang, Family, and Friends

*Krriiiinngggggggggggg*

Alarm berdering membangunkan, bertanda liburan sebentar lagi akan dimulai.

Kulihat jam dinding dan waktu menunjukkan tepat pukul 03.15 WIB. Waktu yang telah ditunggu-tunggu karena saya harus segera bangun untuk mandi, bersiap-siap untuk mengejar pesawat pukul 08.00 WIB karena hari ini Kamis, 16 Juli 2015 hari dimana saya akan pulang ke Semarang untuk liburan panjang lebaran yang telah dinanti-nanti. 🙂

Setelah mandi kurang lebih 30 menit, beberes dan mengecek kembali packing-an semalam, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Pukul 05.00 ini harusnya sudah menerima notifikasi sms dari taxi Burung Biru “Taxi PT*** telah dikirim. Blablabla..” yang telah dipesan semalam tapi belum kunjung diterima juga. Jadi saya menelpon kembali dan operator mengatakan bahwa taxi untuk daerah sini sedang full, mereka sedang mencarikan driver-nya.

Dag-dig-dug ga karuan deh jadinya, takut kalau ketinggalan pesawat. Ternyata H-1 lebaran masih juga banyak yang menggunakan taxi sepagi ini, kirain sudah bakal sepi. Tidak berselang lama sekitar 10 menit, iPhone berdering dan taxi driver menelepon mengkonfirmasi dan menanyakan lokasi tepatnya dimana. Fiuhh untung deh, rencana hendak nekat nyegat taxi langsung didepan jalan raya saja tidak jadi dilakukan.

Perjalanan ditempuh tidak sampai 60 menit karena jalanan ( untungnya ) tidak macet dan sebelumnya mampir dahulu jemput teman yang hendak ikut liburan di Semarang juga didaerah Ketapang. Kurang lebih pukul 6.10 kami bertiga telah sampai di Terminal Satu Soekarno Hatta.

Weladalahh. Ketika hendak check-in, petugas dipintu masuk bandara mengatakan kalau pesawat yang kami naiki untuk rute Jakarta-Semarang telah berpindah ke Terminal Tiga. Hadeh. Kami bertiga berpindah ke Terminal Tiga menggunakan Shuttle Bus, baru kali ini menggunakan Shuttle Bus untuk berpindah terminal karena jujur baru kali ini mengalami salah terminal.

Setelah check-in, lolos metal detector, dll kami tiba di tempat duduk menunggu keberangkatan pesawat kami. Waktu saat itu menunjukkan pukul 07.15, masih cukup untuk bersantai-santai sedikit sebelum perjalanan. Pukul 07.50 kami boarding dan masuk ke kabin pesawat. Setelah duduk, pilot memberitahukan bahwa ada delay dikarenakan pesawat kita masuk antrian boarding urutan 9 karena padatnya pesawat-pesawat yang hendak “terbang” dari Soekarno Hatta. Hadeh Part 2.

Kami tiba di bandara Ahmad Yani Semarang pukul 09.45 WIB dan dijemput oleh Papa dan Mama. Kami berlima langsung menuju Mie Sumatera Sama Rasa di kawasan Tanah Mas. Mie ini merupakan favorit keluarga kami karena rasanya enak dan murah kalau harganya dibandingkan dengan mie-mie babi lain di Jakarta. Sorry ngga ada fotonya >.<.

Kamis malam merupakan acara kumpul-kumpul dengan teman lama di resto BBQ Korea Gang Gang Sullai. Resto ini sudah bertahun-tahun menjadi langganan kita untuk melakukan “ritual” kumpul-kumpul ini. 😀

It's BBQ Time !!

It’s BBQ Time !!

GGS with Old Friends

GGS with Semarang Old Friends

Resto ini menjadi resto favorit pilihan kita dikarenakan All-You-Can-Eat yang tidak dibatasi waktu. Jadi kita bisa ngobrol berlama lama tanpa takut diusir, pernah kejadian sampai kita ditinggal tutup dan last order jadi seolah-olah restoran milik kita sendiri haha. Selain itu daging dan bumbunya juga enak meskipun pilihan makanannya tidak sebanyak Hanamasa / Ssikek Jakarta. Pilihan makanannya yaitu daging sapi, daging ayam, cumi, sosis dan salads. Untuk minumannya juga sudah include All-You-Can-Drink, pilihan minumannya yaitu Ice Tea dan Coca Cola. Tentu Cola yang saya pilih karena jarang banget nemuin All-You-Can-Drink Cola. Damage cost dinner untuk kita bertujuh yaitu IDR 800.000-an.

Setelah selesai makan dan ngobrol-ngobrol, kita pulang menuju rumah masing-masing. Bersambung ke part 2.

And like this July 16th passed..

Lanjut ke hari kedua.

Reuni ( Pamer ? ) Akbar

Reuni ? Akbar pula ?

Pasti terbayang dibenak kalian “gilee nih anak udah umur berapa sampai ikutan reuni akbar segala ?”

Jadi begini, beberapa bulan yang lalu salah satu tenant di tempat saya bekerja mengadakan reuni akbar dan perusahaan saya menjadi sponsornya. Nah, karena menjadi sponsor maka kami pun mendapatkan 2 buah undangan VIP yang sebetulnya diberikan kepada Direktur Utama dan General Manager. Berhubung Direktur Utama sibuk dan General Manager sok-sibuk maka saya yang ditawarin untuk menghadiri reuni tersebut bersama dengan Assistant Building Manager bernama Ibu Widia.

Berikut breakdown acaranya yang tertera di undangan :

Breakdown Acara

Breakdown Acara Reuni

Dengan niat jahat agar bisa meninggalkan kantor lebih awal plus bisa makan gratis dan enak di Kempinski sekaligus akses ke kampus masih simpang-siur ( saya masih menempuh kuliah s2, lebih detail bisa dilihat disini ) antara banjir atau tidak, maka dengan bijaksana saya pun meng-iyakan-nya. 😀

Pada hari H, yang semula direncanakan akan berangkat pada pukul 15.00 ternyata terpaksa diundur hingga jam 16.45 karena masalah kerjaan dadakan. Saya dan Bu Widia tiba pukul 17.15 untungnya tidak macet. Kami pun langsung menuju ke lokasi.

Sesampainya disana, meja – meja telah diatur sedemikan rupa sehingga ditengah-tengah meja diberikan nomor penanda tahun angkatan. Mungkin supaya opa / oma yang sudah lupa dengan teman sejawatnya tidak perlu repot lagi mencari-cari teman seangkatannya. Kita berdua pun duduk ngasal dimeja bertuliskan angka “66”. Sempat juga kita dilihat secara sinis oleh panitia acara karena wajah kita yang jelas-jelas jauh dari angkatan 66 ( satu orang ibu-ibu berusia 40-an dan satu orang pria tampan berusia 17-an hehehe ).

Meja

Susunan Meja Reuni

Sekitar pukul 19.00 acara pun dimulai, karena ini reuni SMA Kristen maka pembukaan dibuka oleh seorang pendeta. Berhubung ini acara reuni yang peserta nya berusia hampir setengah baya keatas ( baca : tua ) maka saya memprediksikan kalau acara pembukaan dan sambutan-sambutan tidak akan lama. Ternyata prediksi saya keliru, sambutan panitia nya ala pidato-pidato calon DPR mencari simpatisan dan anggota parpol, ngalor ngidul ngga jelas. Dimana perut sudah keroncongan berat karena view dari tempat duduk yaitu stand Paulaner Brauhaus. Sosis nya sudah memanggil-manggil diriku sedari tadi. Sialan kau sosis.

Setelah menahan lapar sampai pukul 19.30, akhirnya tibalah disaat yang ditunggu-tunggu. Santap ria ! Mati kau Sosis ! Huahahaha ! *devil’s smirk*  Kami pun dengan berandalan nan beringas beranjak dari tempat duduk ke stand-stand terdekat untuk mencicipi hidangan. Hidangan yang saya cicipin saat itu mulai dari Paulaner’s Sausage, Salmon d’Coute hingga masakan Indonesia ( ayam goreng, ampela, soto, tahu, tempe dan lain-lain ).

Kami makan sambil diiringi ocehan ngga jelas acara reuni yang terus berlanjut. Hadirin yang datang hampir semuanya sesepuh yang datang bersama pasangan maupun ditemani oleh anak / cucu nya. Menurut saya, ajang reuni sekaligus juga dijadikan sebagai ajang pamer kekayaan hasil dari kerja keras mereka selama berpuluh-puluh tahun silam. Tak sedikit yang mengenakan gaun heboh berhiaskan permata maupun accesorres-accesories berlian yang melekat di tangan pemiliknya.

Pikiran saya pun terlintas kembali ke angka “66” yang terpampang tepat di meja. Angkatan “66” ternyata hanya sedikit yang hadir, entah memang banyak yang berhalangan, sedang berada diluar negeri, memiliki kenangan buruk semasa sekolah dahulu, atau mungkin juga banyak yang tidak tahu menahu informasi adanya reuni tersebut atau bahkan malu karena menyandang rekor “paling banyak ditolak cewek” satu sekolah silam.

Terlintas di pikiran mungkin mereka tidak hadir bukan karena berhalangan, bukan karena sedang berada diluar negeri, bukan karena punya kenangan buruk semasa sekolah dahulu, bukan karena tidak tahu informasi reuni, ataupun bukan karena malu menyandang rekor “paling banyak ditolak cewek” satu sekolah silam. Namun tidak hadir karena mereka minder, mungkin karena “kurang sukses”, tidak pede dengan raihan atau “kurang puas” dengan pencapaian selama ini.

Pikiran melintas lebih jauh,

” Apa jadinya Frengky 30 tahun mendatang ? Apakah masih hidup dengan sehat ? Dimanakah akan bermukim kelak ? Kegiatan apa yang dilakukan untuk mengisi hari-hari tua ? Kelak dengan siapa menghadiri acara reuni seperti ini ? “

Ya. Pikiran melayang terlalu jauh.

Pertanyaan tersebut melebur dengan suasana reuni sekarang dan menghasilkan satu cambukan motivasi untuk diri sendiri.

Yaitu agar kelak bisa menghadiri dan menyapa teman-teman dan kenalan di masa lalu dengan bangga. Tidaklah penting menghadiri dengan dilengkapi accesories-accesories permata mahal yang melingkar di lengan, cukup jari – jemari istri tercinta yang terlingkar di lengan, yang selalu mendampingi kemana pun saya pergi. Poin yang terpenting adalah untuk hidup dengan bahagia tanpa penyesalan akibat perbuatan-perbuatan di masa lalu ( atau masa sekarang untuk aku saat ini ).

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.40. Kami pun harus segera pulang karena Bu Widia harus mengejar kereta karena beliau tinggal di Bojong ( dekat Bogor ) dan saya pun harus menjemput teman di daerah Grogol.

IMG_3014

Selfie di toilet Kempinski 🙂

Kejarlah Cita-Cita mu Setinggi Langit!

Tidak terasa 3 semester telah berlalu, tesis sudah selesai disusun, menyongsong sidang tesis besok Senin tanggal 27 Juli 2015.

Sebentar lagi akan meninggalkan kampus tercinta Untar yang biasanya rutin disambangin setiap hari sepulang kantor. Jadi teringat dimana awal-awal masuk kuliah tidak ada teman satu pun, mulai mengenal satu persatu teman, mati gaya saat menunggu perkuliahan dimulai, mengerjakan tugas kelompok bersama-sama, outbound ke gunung Halimun, ruwet-ruwetnya mengerjakan tesis, berdebarnya saat-saat menunggu giliran presentasi seminar tesis, dan masih banyak lagi.

S1 saya ditempuh di Semarang ( kota kelahiran ) di Universitas Katolik Soegijapranata jurusan Computer Science, atau detailnya bisa dilihat disini. Sedangkan S2 saya mengambil jurusan Magister Management konsentrasi Strategic kelas weekdays di Universitas Tarumanagara Jakarta karena tuntutan profesi dan prospek pekerjaan kedepannya ( dulu saya di IT Dept., namun sekarang ketambahan memegang Purchasing Dept. juga ). Untuk sekarang, saya masih belum tahu apakah nantinya akan melanjutkan sekolah S3 atau mengikuti kursus-kursus khusus seperti CISCO, Mikrotik dkk. Kejarlah cita-cita mu setinggi langit ! Dan pendidikan lah yang akan membantu mendekatkannya. 🙂

3 semester meskipun singkat, namun sudah banyak memberikan kenangan, pengalaman dan ilmu yang tidak bisa dibilang sedikit. Banyak mendapat teman baru yang gokil, funky hingga yang gila-gilaan, miss you already, guys 😦 .

Semua pertemuan pasti ada perpisahan, semua kembali lagi bagaimana kita melihatnya dan menyikapinya. Seperti buku yang baru-baru ini saya baca diforum sebelah yaitu The Power of Now ” by Eckhart Tolle. Dalam bukunya, dijelaskan bagaimana “kuat” nya pengaruh dan dampak akan kekuatan waktu saat ini, apa yang kita lakukan, pikirkan dan rasakan sekarang. Beberapa point yang saya suka dan sangat inspirational yaitu :the-power-of-now-2

  1. You are not your mind, be aware of your thinking. Being must be felt, it can’t be thought.
  2. There is no past, there is no future, only the present moment. Problems are created because we are stuck in the past or in the future.
  3. Be aware of the difference between your “life” and “life situation”.
  4. Be aware of your Pain-Body.
  5. Take care of the inside.
  6. Drop the negativity.
  7. Pay attention and surrender to the Now.

Point 2 is my favorite. 🙂

Biasanya masalah muncul karena kita yang membuatnya. Situasi kondisi yang terjadi disekitar kita entah itu baik ataupun buruk bersifat netral. Kita lah pemeran utama yang menjadikan situasi tersebut sebagai masalah atau tidak.

And for being now, I must concentrate for my thesis defense !

To become Frengky Gunawan S.Kom MM

IMG_1019

Hello World!

Hello,

Setelah sekian lama menunda-nunda untuk nge-blog akhirnya kesampaian juga di momen kali ini. Ya, momen yang mungkin kurang bersahabat bagi sebagian warga Jakarta yang lagi sibuk-sibuknya bermacet-macet ria, hujan-hujanan, terpaksa berendam ( baca : kebanjiran ), terjebak banjir, nangkring di atap rumah maupun yang sedang bersih-bersih rumah pasca kebanjiran. Saya sengaja juga untuk men-published post pertama ini pada tanggal 18 Februari 2015 pukul 18:18:18. Ini yang dinamakan oleh sebagian orang dengan memanfaatkan momentum. 😀

Untuk perkenalan tentang saya, mungkin bisa dilihat secara singkat, jelas dan padat disini. Namun saya ceritakan sedikit lagi di my first post ini biar bisa sekalian nambah-nambahin paragraf biar panjang. Hehe.

Pertama-tama, ini bukan blog pertama saya karena beberapa tahun silam ketika waktu masih muda dan naif ( Ops! salah kalau mengira saya sekarang sudah tua, atau mungkin malah ada yang berpikir kalau sudah Om-Om, singkirkan pikiran khilaf itu jauh-jauh karena saya sedang akan menikmati zaman ke-emasan seorang pria, huahaha! ) saya sebelumnya sudah sempat menjamah blogspot sebentar tapi kemudian bertahun-tahun vakum.

Nama asli saya Frengky, but just called me “Freng” or “Frank” in here. Saya kelahiran Semarang dan sekarang saya berdomilisi di Jakarta dan genap 3 tahun merantau pada 1 Maret 2015 besok.

Waktu tidak terasa lambat namun tidak terasa cepat juga. 🙂

Sekarang saya bekerja di bagian IT & Purchasing Department suatu perusahaan di daerah Sudirman, agak melenceng sih kalau melihat latar belakang S1 saya Computer Science di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Nah, supaya tidak terlalu melenceng-melenceng amat sekarang saya sedang on-going S2 Magister Management di Universitas Tarumanagara. Anyway, tidak ada ilmu yang tidak terpakai kok. 🙂

Kalau dihubungkan ke masalah banjir yang melanda Jakarta akhir-akhir ini, untuk soal pekerjaan saya damai-tentram tapi berubah was-was ketika hendak kuliah karena daerah depan kampus memang terkenal banjir. Dimana sudah memasuki proses pembuatan tesis yang diprediksi akan menyita banyak waktu untuk bimbingan pula. Sedih.

Jujur sampai sekarang pun saya masih bingung blog ini mau dijadikan blog bertema apa, tapi daripada enggak mulai-mulai jadinya saya berencana menulis apa saja yang terlintas di kepala dan sebagai sarana menghabiskan waktu di kala luang dan pas iseng aja. Apalagi di saat hujan, banjir, macet dimana-mana dan suntuk seperti sekarang ini.

Judul post ini saja saya bingung mau memakai judul apa, tapi setelah sesaat terlintas coding bahasa pemograman “C” semasa menempuh S1 dulu. Si dosen-sepuh-jago-coding-komputer-pendek-berambut-putih-yang-angker itu sering dan selalu menggunakan kalimat “Hello World!” sebagai contoh hasil output pemrograman, misalnya seperti ini :

#include <stdio.h>

int main()

{

printf(“Hello World!\n”);

return 0;

}

Kalau baris coding singkat tersebut di eksekusi akan menampilkan tulisan : *Tadaaa~*

“Hello World!”

Hebat ya hebat ya, mudah pula. Namun jangan terjebak karena itu hanyalah jebakan paling cemen untuk masuk ke dunia per-coding-an kelam yang diajar oleh si dosen-sepuh-jago-coding-komputer-pendek-berambut-putih-yang-angker itu. Iya, saking tegasnya sampai-sampai dia dianugerahi nickname tokoh siluman berambut putih dalam suatu serial anime terkenal oleh para mahasiswa-nya ( maafkan satu lulusan mahasiswa-mu yang gak tahu diri ini 😀 but I wish you great health, happiness and prosperity, Sir ! ).

Sebagai bentuk permohonan maaf sekaligus rindu dan terima kasih pada Pak Dosen ( dan ilmu-ilmunya yang telah diajarkan ke saya ) maka rasanya tepat dan cocok untuk menggunakan “Hello World” sebagai judul pembuka di posting pertama ini. 🙂

Meskipun coding tersebut singkat dan simple namun sudah sanggup membuat saya ber-nostalgia sesaat ke masa-masa ( susah maupun senang ) kuliah S1 dulu .

At last but not least, allow me to say, “Hello World Guys ! Jaga kesehatan selalu di kondisi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini !” *cheers*

2010, April

After S1 Graduation Ceremony, April 2010